Digepuk Garisan

Parjo kaget, awan-awan pas mulih sekolah anake nomer loro sing jenenge Benu nangis-nangis. Lho, ndungaren arek iki nangis? Biasane malah nggarai koncone nangis, mbatine Parjo karo metu nang pelataran. Benu diterno konco-koncone mergane kabeh kuatir nek engkok Benu malah gak isok mulih saking bantere nek nangis.

Continue reading

Advertisements

A Miracle in Disguise

Selamat Idul Fitri untuk umat Islam yang merayakannya. Semoga amal ibadah puasa Ramadhan kemarin bisa jadi pelebur seluruh dosa, sehingga terlahir kembali seperti bayi yang suci.

Saya mau berbagi sedikit cerita yang baru saja saya alami, tepatnya saat mudik Lebaran tahun ini. Saya berkesempatan mendapat hadiah Lebaran yang teramat sangat istimewa. Saya dan keluarga kecil saya dipertemukan Allah dengan sebuah keajaiban. Bukan berhasil sampai di rumah orangtua untuk sungkem seperti Lebaran umumnya, tapi justru dipertemukan dengan sebuah keluarga yang berhati sangat mulia. Ini dia ceritanya:

Saya adalah salah satu dari sekian juta orang Indonesia, khususnya di pulau Jawa, yang merayakan Lebaran dengan ritual mudiknya yang sudah turun temurun itu. Saya dan keluarga juga adalah pelaku dan saksi hidup, tentang “horror” yang terjadi di jalur mudik, khususnya di wilayah Brebes Jawa Tengah, dimana menurut laporan media massa, banyak kejadian tidak mengenakkan, bahkan mengenaskan bagi para pemudik yang berduyun-duyun datang dari Jakarta dan sekitarnya, menuju kampung halaman yang kebanyakan berada di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, termasuk untuk yang ingin berlibur. Duabelas orang meninggal, belum lagi mereka yang sakit karena terpaksa menghirup polusi udara ultra besar, karena jutaan kendaraan bermotor yang tumplek blek di titik yang sama.

2 Juli 2016. Saya sekeluarga berangkat dari Yogyakarta menuju Jakarta sekitar jam 11 siang, sesudah ngantor sebentar. Lewat perhitungan peta digital Waze dan Google Maps, perjalanan dari Jogja ke Jakarta bisa ditempuh sekitar 10-12 jam, dengan kondisi kepadatan beragam. Saya memilih jalur selatan, lewat Kebumen, Gombong dan seterusnya, karena dari tradisi yang ada, kebanyakan pemudik akan lewat Pantura, melalui tol Cikopo – Palimanan alias Cipali, nantinya tembus ke tol Pejagan di Brebes, sambung lagi ke Pekalongan dan Semarang. Lagipula, baik Waze maupun Google Maps menunjukkan titik-titik macet yang lebih sedikit di jalur selatan. Perjalanan awal alhamdulillah lancar-lancar saja. Kondisi jalan terhitung cukup baik, dan arus lalulintas tidak terhambat samasekali. Tepat jam 7 malam WIB, mobil masuk Bumiayu, karena sudah diarahkan oleh petugas kepolisian untuk menuju rute tersebut untuk menuju ke arah Tegal, dan seterusnya untuk ke tol menuju Jakarta. Pukul 11 malam kurang lebih, saya turun beli bensin, karena indikator sudah menunjukkan pertengahan kapasitas tangki, sementara pombensin di daerah antrian yang menuju ke Tegal sudah sangat penuh antrian kendaraan yang akan beli bensin dan rehat.

3 Juli 2016 dinihari sekitar pukul 1 WIB. Posisi saya akhirnya bisa keluar dari antrian di Bumiayu menuju Tegal, saya sudah tidak perhatikan lagi nama jalan termasuk di peta, karena kondisi sudah sangat lelah. Namun karena ada rekayasa lalulintas, jalur yang seharusnya bisa dilalui menuju ke arah Tegal jadi teralihkan ke jalur lain, dan saat itu benar-benar bingung dengan kondisi pengaturan yang langsung entah menuju ke mana saya sudah tidak paham lagi. Yang saya tau hanya yang penting saya harus segera menemukan jalan untuk menuju ke arah Cirebon, terutama menuju ke tol Pejagan untuk segera menuju Jakarta. Karena akses ditutup sehingga peta Waze dan Google Maps sudah tidak bisa jadi panduan, saya hanya mengandalkan tanya petugas pombensin tempat saya mengisi terakhir, dan kemudian memutuskan untuk melambung menuju Jatibarang, karena itu yang saya ketahui. Perjalanan memakan waktu sampai sekitar jam 5 pagi untuk sampai kesana, dan lagi-lagi saya sudah dihadang kemacetan. Baiklah, karena ini hari mudik se Indonesia, saya berusaha sabar saja meski sudah mulai kebingungan dan stres tambah capek yang makin merajalela. Saya putuskan tetap ngikut jalur ini, dengan harapan menuju keluar segera dari Brebes.

Sekitar jam 11 siang saya memasuki daerah Larangan, masih di Brebes juga, dengan antrian yang sangat panjang, dan tiap kali berhenti harus selalu diikuti dengan mematikan mesin mobil. Kalau tidak, siap-siap tekor habis-habisan hanya untuk beli bensin. Karena stuck di wilayah itu, saya hanya bisa pasrah dan berhenti sambil ngobrol dengan sesama pemudik yang menuju Jakarta. Menurut pemudik yang saya tanyai, orang Jatibening Bekasi, tahun lalu macetnya tidak separah ini. Apalagi kondisinya juga mirip saya, 2 hari tanpa mandi karena sekali keluar barisan antrian, harus nunggu sangat lama untuk bisa masuk karena sudah pasti akan berdesakan dengan yang di belakang. Sampai Magrib saya belum juga beranjak dari Larangan. Hanya sesekali jalan beberapa meter, untuk kemudian berhenti berjam-jam. Sekitar jam 9 malam baru bisa bergerak lagi melewati jalan makadam, kalau tidak salah Jl. Inspeksi namanya. Kondisi jalan yang rusak berat, ditambah volume yang sangat panjang, membuat lalulintas makin semrawut, karena dari berbagai arah, Brebes seperti dikepung lautan kendaraan bermotor.

4 Juli 2016. Pukul 1 dinihari saya berhasil mencapai ujung pertigaan dari arah Kersana menuju akses ke arah tol Pejagan. Harapan sudah mulai menyala, dan merasa nggak sia-sia sampai harus berjibaku dengan kondisi seperti itu. Ternyata pas sudah di akses jalan, ternyata kembali pemudik dialihkan, dan tidak bisa belok ke kiri menuju pintu tol Pejagan menuju Jakarta. Akses sudah ditutup akibat rekayasa, dan kembali saya bersama jutaan pemudik lainnya yang searah harus kebingungan. Saya coba kembali ke jalur semula, persisnya sebelum saya berbelok menuju akses ke Pejagan. Ternyata saya harus kembali tertahan berjam-jam dengan kondisi yang makin buruk. Mulai terlihat tanda-tanda stres pada anggota keluarga, ditambah lagi saya harus berhemat karena susahnya menuju pombensin, dan tidak terjaminnya ketersediaan BBM karena akses jalannya terhambat.

Saya kemudian kembali ke jalan semula, kemudian mengambil arah ke Losari melewati Kersana. Sampai situ wassalam. Jalanan yang macet amat sangat parah kembali menghadang. Boro-boro masuk Losari, yang ada malah tidak jalan sejak malam sebelumnya. Saat itu saya sekeluarga mulai menyerah, harus membatalkan niat untuk mudik ke Jakarta demi silaturahim ke orangtua dan keluarga besar di Jakarta dan Bandung. Sampai subuh saya harus terus tertahan di Jl Raya Ciledug – Ketanggungan. Akhirnya karena sudah waktu sholat Subuh, saya pinggirkan mobil ke masjid terdekat, dan untuk pertamakalinya sejak tiga hari, saya sekeluarga bisa merasakan mandi dan bersih-bersih badan sekalipun hanya sekedarnya. Setelah Subuhan kami beristirahat sambil menunggu sampai agak siang, dengan harapan lalulintas bisa mencair. Benar saja. Sekitar jam 9 pagi sudah agak lengang. Saya coba lagi ke arah Kersana menuju Losari, karena akses terdekat dari masjid tempat kami numpang mandi ya hanya itu. Apa daya, lagi-lagi kami dihadang kemacetan parah. Akhirnya dengan berat hati, kami harus membatalkan rencana mudik ke Jakarta. Sekarang tujuan utama adalah cari pombensin yang masih punya stok BBM, supaya mobil bisa minum sampai puas.

Pencarian itu membawa kami sampai Ketanggungan, yang masih wilayah Brebes juga. Selama itu pula keluarga besar kami di Jakarta dan Surabaya terus menginformasikan perkembangan arus mudik di Brebes, yang memang ternyata amat sangat parah, entah apalagi istilah yang bisa digunakan untuk menggambarkannya. Saat itu dengan harapan yang tersisa, saya mencoba belok ke Ketanggungan yang menuju ke Pejagan, karena itu akses termudah dan terdekat dari lokasi terakhir kami beristirahat. Ternyata lalulintas dibuang lagi ke arah jalur alternatif menuju Cirebon dan Margasari. Stres makin menggila, terutama saya yang bertanggungjawab membawa keluarga sampai di tujuan dengan selamat. Apalagi jalur menuju Slawi yang sebetulnya bisa jadi tempat putar balik, karena semua sudah direkayasa jadi satu arah, ternyata juga ditutup sehingga akhirnya kami harus mengikuti jalur alternatif yang menuju ke Cirebon dan Purwokerto.

Cerita masih berlanjut. Sambil berupaya mencari jalan kembali ke arah Ketanggungan, saya berganti peran dengan istri sebagai driver. Sementara saya jalan ke arah depan untuk meminta bantuan, setidaknya kami boleh memarkir mobil sambil beristirahat, menunggu kondisi lalulintas yang macetnya tingkat dewa ini bisa terurai, meski saat itu kami benar-benar blank, kapan kemacetan itu akan bisa lancar kembali. Sambil berusaha, tentu saya sekeluarga juga berdoa, berharap Allah segera memberikan jalan untuk kami dan tentunya para pemudik yang makin stres, terlihat dari pakaian mereka yang awalnya rapi, makin siang makin berantakan, bahkan sampai bertelanjang dada saking panas dan macetnya. Saat sedang mencari tempat beristirahat itulah, ada sebuah bengkel servis sepedamotor di desa Kubangwungu Kecamatan Ketanggungan Brebes, yang halamannya lumayan besar untuk sekedar kami singgah. Saya segera minta izin ke pemilik bengkel, namun ternyata ia keberatan, dan menunjuk rumah sebelahnya yang katanya sih, biasa dipake jujugan kendaraan yang numpang istirahat.

Sambil berharap dalam putus asa, saya akhirnya minta izin pada pemilik rumah, untuk bisa sekedar melepas lelah. Ngemper pun nggak apa-apa, asalkan kami bisa menunggu berakhirnya kemacetan yang ternyata seakan tanpa akhir itu. Awalnya pemilik rumah hanya meminjamkan tikar supaya kami bisa duduk lebih nyaman. Apalagi mereka juga mulai kedatangan keluarga besar yang mudik dari Jakarta dan Bekasi. Buat kami itu sudah sangat cukup, karena kami tidak ingin merepotkan lebih jauh lagi. Ternyata bukannya tambah berkurang, kemacetan di jalur itu makin parah, sehingga kami benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi.

Saat itulah tuan rumah kemudian meminta kami untuk meneruskan perjalanan esok hari saja, sambil memantau kondisi lalulintas. Kami hanya bisa bersyukur karena kami merasa pertolongan Allah turun lewat pemilik rumah itu, untuk kami yang sudah hampir kehabisan bensin dan harapan, sementara SPBU tidak satupun punya stok BBM. Kalaupun ada tinggal Solar. Sementara harga bensin eceran yang biasanya antara 7500-8000an perliter, tiba-tiba jadi 50 ribu perliter. Bayangin sodara! Seliter tuh!

5 Juli 2016. Situasi lalulintas masih belum juga berubah. Sejak kemarinnya sampai siang hari, masih saja macet dengan durasi yang sangat lama. Kami sebenarnya sudah sangat merasa tidak enak, sungkan sih tepatnya, karena bagaimanapun kami hanya berniat untuk sekedar numpang istirahat sambil menunggu situasi lalulintas jadi kondusif. Namun tuan rumah benar-benar seperti malaikat turun dari langit, mengizinkan kami yang sudah tidak berdaya itu untuk tinggal sementara sampai benar-benar kami bisa bergerak. Bantuan tidak hanya itu. Saya mencoba minta bantuan ke adik saya sehari sebelumnya, mungkin ada temen di Brebes yang bisa bantu belikan BBM, mau Premium kek, Pertamax kek, Pertamax Plus sekalipun saya udah nggak peduli. Alhamdulillah ada temen adik di Ketanggungan, tidak jauh dari rumah tempat saya menumpang, yang mau mengantar Pertamax 10 liter. Urusan BBM beres bukan berarti saya bisa langsung jalan. Sampai menjelang Magrib, kemacetan yang harus berhenti berjam-jam itu masih saja terjadi. Tuan rumah kami meminta kami sebaiknya Lebaran di desa itu saja, daripada kami harus berjibaku ke Jakarta, atau kembali pulang ke Jogja tanpa ada kepastian kondisi lalulintas. Entah apa yang harus saya lakukan untuk membalas semua kebaikan keluarga yang baik ini. Saya sempat ngobrol dengan sang bapak, dia adalah seorang Sekretaris Desa atau pak Carik di desa itu, dan ia bercerita kalau rumahnya biasa dijadikan jujugan kalau ada mahasiswa KKN. Sambil mengisi waktu, kami berusaha menempatkan diri kami sebaik mungkin, dan membaur dengan tuan rumah yang sedang sibuk mempersiapkan pernak-pernik Lebaran.

Sekitar jam 9 malam kemacetan yang seakan tanpa henti itu entah kenapa tiba-tiba hilang begitu saja. Seakan ada pintu besar yang terbuka, sehingga semua kendaraan yang stuck disitu bisa langsung bergerak dengan lancar. Alhamdulillah. Saat itu saya sudah berencana melanjutkan perjalanan, namun pak Carik dan keluarganya meminta kami berlebaran di Brebes saja. Hitung-hitung jadi saudara baru. Ya Allah. Benar-benar sesuatu yang tidak pernah kami duga akan seperti ini. Saat kami sudah sangat putus asa, tidak tahu bagaimana caranya melanjutkan perjalanan, mereka datang membantu kami dengan ikhlas. Seperti malaikat yang tiba-tiba turun dari langit untuk membantu kami. Ini bukan lebay atau berlebihan. Saya hanya nggak tau gimana caranya mengungkapkan keajaiban ini dengan baik.

6 Juli 2016. Akhirnya kami berkesempatan berlebaran bukan di tempat yang kami tuju, tapi justru bersama keluarga yang baru kami kenal saat kami butuh bantuan, dan tiba-tiba saja mereka sudah seperti saudara dengan kami. Namun kami tetap harus melanjutkan perjalanan, sekalipun itu berarti kami gagal mudik untuk sungkem ke orang tua dan harus kembali ke Jogja. Namun kami mendapat berkah yang sangat besar dari Allah, di penghujung bulan Ramadhan sampai Idul Fitri hari ini.

Untuk siapapun yang bertanggungjawab atas kemacetan parah yang terjadi di Brebes, tidak perlu lempar-lemparan tanggungjawab, apalagi bikin pernyataan bodoh yang hanya akan membuat kalian makin terlihat tidak kompeten. Memang tidak perlu menyalahkan siapapun kalau kata Presiden. Tapi ketahuilah, yang naik bis saja ada yang meninggal karena kelelahan, apalagi yang naik kendaraan pribadi, mobil atau sepedamotor. Silakan jadikan evaluasi buat tahun depan, supaya tragedi paling parah dalam mudik tahun ini tidak terjadi lagi tahun depan. Targetnya zero accident, tapi ternyata malah banyak yang mati kelelahan.

Untuk pak Carik, bapak Suwitno dan keluarga besar. Terimakasih tak terhingga kami haturkan untuk bapak sekeluarga, yang menjadikan kami sebagai keluarga baru disana. Kami tau kami tidak akan bisa membalas kebaikan yang luar biasa ini. Semoga berkah dan rezeki Allah selalu tercurah untuk njenengan dan keluarga besar di Desa Kubangwungu yang sudah menerima kami, bahkan memperlakukan kami seperti keluarga sendiri, meski kami bukan siapa-siapa, datang dari antah berantah tiba-tiba muncul numpang parkir mobil. Barakallah pak, Gusti Allah yang akan membalas semua kebaikan dan kemuliaan njenengan sekeluarga. Amin ya Rabbal alamin.

Ngincer Yang Sama Kan?

Beberapa waktu lalu ada seorang pengguna Facebook cerita, dia punya beberapa teman yang mengidap kelainan orientasi seksual, yang kalo bahasa kerennya sekarang adalah LGBT alias Lesbian Gay Bisexual Transgender. Apapun namanya, betapapun upaya memperkeren istilahnya, tetap saja itu sebuah kelainan yang kalo menurut para psikolog berasal dari kejiwaan. Si pengguna Facebook ini bilang, dia pernah bercanda dengan teman-temannya yang homo ini, dan tau-tau ada yang nyeletuk, elu belum pernah dianal sih. Sekali kena pasti ketagihan.

Oke. Kalo ngomongin masalah seksual, sebetulnya secara kodrat alami dari Tuhan, yang namanya laki-laki pasti akan berhubungan seks dengan cara memasukkan alat kelaminnya pada alat kelamin perempuan. Karena itulah Tuhan merancang model alat kelamin laki-laki dan perempuan berbeda bentuk, supaya bisa dipergunakan sebagaimana mestinya.

Nah, pada mereka yang mengidap kelainan orientasi seksual pun, sebetulnya secara naluriah punya kecenderungan yang sama, yaitu mencari “lubang” untuk menempatkan “senjatanya” pada tempatnya. Bahasa sederhananya sih, kalo memang sama-sama cari lubang, ngapain juga nyari lubang yang penuh penyakit? Kalo anal berarti kan memasukkan penis ke dalam anus. Sementara anus itu tempatnya kotoran yang disebut feses, tinja, taek dan lain sebagainya. Sementara Tuhan sudah menciptakan perempuan dengan alat kelamin yang memang cocok untuk ditempati alat kelamin laki-laki, lengkap dengan proteksi kesehatan alamiahnya berupa lendir atau cairan vagina. Cairan ini disamping memperlancar gerakan penetrasi, juga membunuh kuman dan bakteri yang berpotensi membuat gangguan penyakit kelamin.

Jadi kesimpulannya, kalo memang sama-sama nyari lubang, kenapa pilih yang sumber penyakit? Sementara Tuhan menciptakan lubang yang pantas untuk laki-laki, lengkap dengan kenikmatan dan kesehatannya. Kalo kemudian kaum homo ini justru ingin mendapat tempat di masyarakat, sudah jelas mereka menentang dan menantang Tuhan dengan segala macam dalih dan alasannya. Omongan merasa terjebak jiwanya dalam tubuh beda gender, sampai menyatakan kelainan mereka adalah anugerah Tuhan yang harus diakui dunia, menjadi omongan yang sangat sering dilontarkan mereka yang lebih suka cari pembenaran daripada bertindak benar.

Tuhan memang tidak menciptakan semua makhlukNya dalam kondisi sempurna. Tapi ditengah ketidaksempurnaan itu, justru ada kelebihan lain berupa anugerah yang hebat kalau memang digunakan di jalanNya. Begitu juga manusia dengan sexual disorder semacam ini. Kalau memang Tuhan memberi anugerah itu, artinya manusia ini ditantang untuk bisa menyembuhkan diri, karena Tuhan tahu mereka adalah orang-orang hebat.

Berilah Mereka Jalan

Mau tau cerminan masyarakat suatu wilayah? Lihat aja perilaku para pengendara yang ada di jalan raya. Pernyataan seperti ini pernah saya denger bertahun-tahun yang lalu, waktu ada bahasan di radio soal kedisiplinan pengguna jalan yang semakin lama semakin pudar. Artinya, kalau pengguna jalannya tertib dan patuh pada rambu lalulintas, berarti bisa dibilang kondisi sosial masyarakat di wilayah itu baik dan tertata. Tapi kalau ternyata di jalan banyak pengendara yang ugal-ugalan, sleyot kanan kiri persis bajingan lagi syuting film, berarti kondisi masyarakat di wilayah itu sama keparatnya dengan kondisi yang ada di jalan.

Biasanya kalau udah gitu, selalu bakal muncul pernyataan berbau ngeles dari sebagian pengguna jalan, terutama yang merasa tersentil dengan kelakuan mereka yang mirip iblis kebelet pipis.

Ah nggak semua pengguna jalan perilakunya seperti itu. Jadi jangan dianggap kondisi di jalan sama dengan kondisi masyarakat keseluruhan dong!

Kan nggak semua yang di jalan itu ugal-ugalan. Ada juga yang tertib. Mestinya jangan digebyah uyah dong! Kan kasian mereka yang udah berusaha tertib tapi tetap dibilang bagian masyarakat yang amburadul!

Dan mungkin masih banyak pembelaan sejenis yang isinya sama dan sebanding (koyok matematika ae rek! :D). Saya sih cuma tergelitik dengan pepatah lama yang bunyinya, Wong Jowo ilang Jawane. Pepatah itu sih untuk menggambarkan betapa perilaku dan sikap hidup orang Jawa (kebetulan contohnya Jawa sih), sudah tidak lagi seperti layaknya orang Jawa yang terkenal santun, penuh kesopanan dengan tutur bahasa yang lemah lembut tapi dengan tidak meninggalkan ketegasan sebagai orang yang jujur, dan masih banyak lagi nilai luhur lainnya, yang biasanya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Artinya, orang Jawa sekarang sudah tidak lagi seperti kesan ideal yang muncul dari penilaian si penutur pepatah. Tapi balik lagi, kebetulan itu pepatah yang dituturkan orang Jawa, dus ternyata pepatah semacam ini juga terjadi di wilayah lain di luar Jawa, terutama dalam hal berlalulintas.

Negeri ini udah dikenal akan kesopanannya, dan rasa toleransinya yang sangat tinggi. Jadi kita boleh berharap di jalanan pun perilaku masyarakat penghuni negeri ini akan sama persis dengan pencitraan yang selalu diucapkan, bahkan termasuk oleh turis luar negeri sekalipun.

Tapi apa yang terjadi?

Pepatah orang Jawa udah ilang Jawanya, seakan-akan sekarang bisa diperluas menjadi orang Indonesia udah kehilangan keIndonesiaannya. Contoh kecil adalah di jalan raya, tempat dimana manusia beraktivitas dan bepergian. Melihat kota besar atau kota setengah besar sekalipun, kepatuhan terhadap rambu lalulintas sudah makin pudar, bahkan pada saat ada petugas polisi sekalipun yang lagi nongkrongin perempatan atau rambu. Polisi yang biasanya jadi sosok dihormati dan bahkan ditakuti di jalan, sekarang sudah dianggap cuma pajangan di jalan raya.

Satu pengalaman pribadi saya adalah saat hijrah ke Jogja, yang dikenal punya unggah-ungguh dan toleransi tinggi. Saat pertama pindah, terasa betul toleransi di jalan sangat tinggi. Bahkan sesama pengguna jalan malah bisa saling mempersilakan yang lainnya untuk lewat lebih dulu. Sebuah contoh yang sangat bagus untuk kota lain, terutama kota besar seperti Jakarta, Surabaya, atau Medan. Setelah beberapa tahun pindah dan merasakan kehidupan yang penuh kebaikan itu, ternyata mulai ada perubahan perilaku di jalan. Walaupun memang lagi-lagi tidak semua pengguna jalan kurang ajar, tapi sekarang pengguna jalan di Jogja mulai tidak sedikit yang egois, ugal-ugalan, bahkan saling mengalah untuk memberi jalan yang pernah saya rasakan, sekarang hampir tidak pernah saya dapatkan karena yang ada sekarang lebih banyak yang saling menyerobot supaya nggak keduluan jalan.

Buat saya pribadi, jelas ini perkembangan buruk bagi daerah istimewa yang juga dijuluki kota pelajar ini. Bisa sampeyan bayangkan, kota pelajar yang pastinya banyak kaum pelajar dan terpelajar, ternyata tidak sedikit kelakuannya yang kayak orang nggak pernah belajar dan kurang ajar. Gara-gara itu pula saya jadi teringat pepatah wong Jowo ilang Jawane. Mungkin kalau dipersempit, wong Jogja ilang Jogjane. Sekali lagi, memang tidak bisa kita menggebyah uyah semua orang di provinsi ini brengsek berdasarkan kelakuannya di jalan. Hanya saja, pandangan umum biasanya akan melihat dari yang terbanyak dia temui di jalan atau yang dialami. Seorang teman yang juga perantau dari Bali pernah berkata, sekarang susah banget kalau mau nyeberang di Jogja, karena lebih banyak yang nggak mau ngasih jalan daripada yang berhenti.

Sepele sih, memberi jalan hanya supaya orang lain bisa lewat lebih dulu, atau mendahului kita meski sama-sama punya kepentingan yang sama pentingnya. Tapi kalau dulu bisa, kenapa sekarang nggak bisa? Untuk urusan toleransi semacam ini, saya lebih rela dikatain gagal move on, daripada kita move alias berhijrah hanya dari orang yang peduli dengan orang lain, menjadi orang yang egois dan mau menang sendiri.

Berilah jalan pada orang lain, maka kita juga akan mendapat perlakuan yang sama, dan bahkan bisa jadi jalan yang kita lalui akan jadi lebih lancar karena kita bersedekah dengan cara memberi jalan pada orang lain yang kebetulan amprokan sama-sama mau lewat. Kecil sih, sepele juga sih. Tapi kalau semua bisa kolektif berbuat baik seperti itu, insya Allah jalanan di kota manapun akan lebih adem buat sesama pengendara, dan nggak bakal muncul yang namanya pepatah The Road is Just a Killing Field.

Masyarakat Madani vs Medheni

Kita harus mengedepankan kearifan lokal kita, supaya nantinya menjadi bangsa yang madani. Kearifan lokal kita sebetulnya adalah yang terdepan dalam produk budaya, sehingga nantinya dari situ diharapkan muncul keunggulan sesungguhnya bangsa ini, yang mana pada dasarnya…

Roeeng! Roeeng roeeng!

Suara orang di tivi yang dilihat cak Kandar langsung ilang ditelan hingar-bingar suara sepeda motor yang meraung-raung memenuhi jalan di pagi hari yang dingin itu. Masih tersisa kabut yang turun waktu subuh tadi, tapi tiba-tiba semua hilang begitu saja diganti asap knalpot yang lebih mirip asap kebakaran hutan, ditambah suara lolongan mesin motor yang cetar membahana, melebihi Syahrini yang memang sesuatu.

Diamput! Angger onok acara partai mesti kelakuan kadere koyok ngene!” Sepertinya kesabaran cak Kandar sudah menipis, karena rupanya aksi jahiliyah semacam itu bukan cuma sekali saja terjadi. Setiap kali ada riungan alias kumpulan dari partai politik dan organisasi bawahannya, selalu saja ada aksi norak semacam itu yang dipertontonkan. Mirisnya, tidak satupun warga yang mau ikut nimbrung menghadang mereka, dan menjadikan warga ndak penting itu bulan-bulanan sandal atau klompen yang mereka pakai karena pagi-pagi sudah bikin keributan. Padahal kalo misalnya warga mau kumpul semua sih, dijamin biang onar itu ndak akan berani bleyar-bleyer di wilayah itu. Mungkin males, daripada lagi asyik rujakan klompen sama kader partai tau-tau dicokok polisi dengan alasan bermacam-macam kan malah repot. Mending biarken saja sambil misuh dalam hati.

Tapi rupanya cak Kandar pagi itu sudah ndak mau lagi hanya sekedar misuh dalam hati, atau sekedar neriaki mereka yang jelas ndak bakal denger karena kuping kanan kiri disumpel kapas, sementara mereka asyik bleyer-bleyer motor yang knalpotnya hanya berupa pipa sepotong yang ujungnya makin besar ke belakang. Entah gimana caranya, cak Kandar rupanya sukses mengajak warga kampungnya menghadang gerombolan begundal sampah masyarakat itu. Memang lokasi kampung tempat tinggal cak Kandar berdekatan dengan akses jalan utama, sehingga sering dipakai sebagai jalan alternatif dan pastinya gerombolan monyet bermotor itu. Bahkan kali ini pak RT kampung cak Kandar juga ikut dalam kumpulan warga yang siap tanding itu, sambil bawa potongan bambu yang diambil dari halaman belakang rumahnya.

“Ben kapok gak mbrebegki kuping maneh,” katanya.

Pas rombongan begundal itu lewat, cak Kandar dan para warga langsung menghadang sambil mengacung-acungkan bambu, pentungan, parang, dan apapun yang bisa dipakai warga untuk mengancam. Rombongan terdepan yang bawa bendera bertuliskan Izroil alias nama malaikat pencabut nyawa dalam Islam itu rupanya merasa kebal bacok, sehingga mereka terus saja tancap gas. Pak RT yang berdiri paling depan disebelah cak Kandar langsung menggaplok bambunya ke arah mereka. Seketika satu motor tumbang.

Melihat teman-temannya dihajar begitu rupa, anggota gerombolan lain tidak terima. Apalagi jumlah mereka makin besar seiring datangnya anggota susulan. Sambil tetep bleyer-bleyer mereka berusaha menabrak warga yang memang sudah marah tingkat dewa itu sambil mengeluarkan sumpah-serapahnya. Sayang mereka lupa, mereka sedang berada di wilayah tak dikenal, ditambah lagi warga yang marah karena kelakuan mereka semakin lama semakin banyak yang berkumpul, sehingga jelas jumlahnya sudah sangat tidak seimbang. Tapi siapa yang peduli? Rupanya warga kampung cak Kandar sudah eneg melihat kelakuan pengikut partai politik yang kelakuannya sama aja seperti kelakuan pemimpin partainya yang menghalalkan segala cara untuk berkuasa, sehingga di pagi hari yang cerah itu, berubah jadi pagi berdarah karena warga yang mengamuk melemparkan dan memukulkan apa saja yang mereka punya kepada gerombolan sepeda motor itu. Korban mulai berjatuhan diantara para begundal partai. Bahkan yang bawa bendera bertuliskan Izroil hampir saja mati ngenes karena dihajar panci penggorengan ibu-ibu yang akhirnya ikut nimbrung karena ndak terima para suami mereka harus berjuang sendirian. Untung beberapa anggota komplotan partai itu sudah keburu menarik mereka dari peredaran, dan melarikan diri dari kepungan warga.

Karena sudah jelas kalah, mereka yang masih dibelakang langsung putar balik keluar dari kawasan kampung tempat cak Kandar. Tapi sebagian diantara mereka ndak bisa lari karena warga langsung bergerak mengepung mereka. Masih untung warga ndak bertindak lebih sadis dengan membakar motor berikut orangnya, karena masih ngerti aturan dan tidak mau main hakim sendiri biarpun sebetulnya tindakan mereka main hakim juga sih.

Pak RT langsung memarahi mereka yang terkepung disitu.

Sakjane karepmu kabeh iki opo cok? Nek arepe kampanye opo konvoi mbok sing sopan. Ojok bleyar-bleyer sak karepe ndasmu dewe. Mbok pikir menungsa nang kene iki gak nduwe kuping kabeh ta? Enak raimu kabeh mbok sumpeli kupingmu sampek buntu. Mangkane suara knalpotmu gak krungu. Tapi koen kabeh mbudhegno wong cok!”

Padahal biasanya pak RT ndak pernah sampai segitu marahnya, apalagi sampe misuh-misuh segala. Ibu-ibu yang ikut bergerombol juga kaget, “Tibake pak RT iki yo iso misuh yo?” celetuk Ning Susi sambil bisik-bisik ke Yu Paijah disampingnya.

Saiki koen kabeh muliho. Sepedamu kabeh dhekek kene. Disita warga mergo kelakuanmu kabeh. Maringene kabeh sepedamu tak kekno polisi. Dadi nek arep njupuk, engkok jupuken nang kantor polisi. Trus ngomongo karo partaimu. Nek sesuk-sesuk ngadakno acara koyok ngene maneh, tak beleh kabeh! Ngerti koen??!!”

******

Kejadian diatas memang bukan kejadian sebenarnya. Tapi kalau masyarakat sudah eneg, sudah jengkel berat dengan kelakuan partai politik dan para kadernya, bukan ndak mungkin kejadian diatas akan berubah jadi kisah nyata. Percaya atau tidak, konvoi model begini masih sering terjadi di sekitar kita, entah itu oleh oknum suporter bola, kader partai, bahkan organisasi masyarakat dengan berbagai nama, termasuk yang berembel-embel agama sekalipun. Masyarakat madani memang bukan masyarakat yang sempurna dalam segala hal, karena madani sendiri berarti beradab dalam menjalankan setiap aktivitas kehidupan, sehingga tercipta kondisi yang seimbang antara kebutuhan individu dan masyarakat. Kalau kemudian yang terjadi seperti cerita di atas, maka yang tercipta bukan masyarakat madani, tapi masyarakat medheni alias menakutkan karena dampak dari ulah tidak bertanggungjawab seperti itu.

 

Wassalamualaikum.

Suwun rek!

Pokoke Gak Korupsi

Assalamualaikum dulur. Yo opo kabare rek? Sek kuat ta dipimpin wong iku? Iku lak gambar plesetan sing akeh nang nggone pesbuk karo Twitter, hehehe… Mugo-mugo sampeyan kabeh diparingi sehat seger waras akeh rejekine karo gusti Allah SWT. Wingi Sabtu 28 Maret iku lak bengsin wis diundakno maneh karo pemerentah. Jarene Menteri ESDM, pokoke rego keekonomiane kudu tekan 8500 Rupiah sak liter, lagek isok full gak onok subsidi lan gak onok sing nanggung selisih regane koyok saiki. Mbuh sopo sing nanggung nek saiki, wong jarena undang-undang kudune Pertamina gak oleh nanggung mergane dhe’e lak BUMN ta.

Wis aku gak katene ngomongi bengsin mundak rek. Diapak-apakno pancet kene sing digencet. Wong pemerentah saiki nek gak nyengsarakno rakyate ketoke sek durung marem. Mangkane saiki disiasati ae ben dhuwik blonjo gawe anak bojo isok dicukupi.

Yo opo carane cak? Wong kabeh wis ditoto sek pancet ae gak karuan. Lha yo opo? Kabeh larang hare.

Nah iku, onok sing jenenge menahan keinginan. Maksute ben gak kebablasen ngentekno dhuwik digawe tuku sembarangkalir.

Lha opone maneh sing diempet? Wong iki gawe mangan ae sampek bingung lek nyiasati.

Yo menu masakmu ae sing diganti.

Iki maneh cak. Wong saiki sampek dibelani mangan karo godhong-godhongan thok cek isok mbayar sekolah sak sembarange, arep diganti opo maneh? Mangan gragal tha? Malah larang tukune cak!

Lho kan onok alternatif se? Misale biasane awakmu mangan sego, yo diganti segane karo jagung opo telo ngono lho.

Omonganmu koyok Mentri ae cak! Winginane yo ngono onok menteri dapurane wis gak ngalor gak ngidul, cangkeme angger njeplak ngongkon masyarakat gak mangan sego maneh, diganti telo, pohong utawa sagu. Lha nek pancen durung tau ngerasakno mangan ala wong mlarat yo ojok kakehan cangkem menteri ngono iku. Ngene iki sing nggarakno akeh wong judheg, akhire timbangane bingung nggolek dhuwik gak nyucuk karo blanjane, yo mbegal ae!

Sek ta. Awak dhewe lak jarene mengunso kreatif ta? Yo nek onoke telo karo pohong yo disiasati digawe kolak ta, opo dibakar ta. Kan enak se, gak atek lawuh dadine malah luwih murah.

Murah tapi nek anakmu kurang gizi gelem ta?

Ojok cengeng ta rek. Mosok urip prihatin ngono ae gak isok?

Gak isok bathukmu sempal cak! Mangkane saiki nek onok arek-arek mahasiswa demo arep nglengserno pemerentah sing saiki tak dukung. Nek perlu aku melok paling ngarep dhewe. Atase gak isok mimpin ae ngejok-ngejokno awak. Mbok yo wong koyok ngono iku isok rumangsa. Gak rumangsa iso thok ae! Yo ngene iki dadine! Nek Presiden sing ndhisik merentah 10 taun ngundakno bengsing ping papat. Saiki jek durung 6 ulan wis ngundhakno bengsin ping telu. Gak taek ta ngono iku?

Huss! Ojok misuh ngono!

Lho, sing penting lak aku gak korupsi cak!

Mbrengkele

“Arek dikandani malah njarak. Saiki rasakno koen!” Cak Kodir mencak-mencak nang ngarep omah. Bengak-bengok koyok Satpol PP ngobrak bakul DVD nang Gentengkali.

“Opo’o cak?” Pak RT pas ketepakan liwat mari jogging mlipir Kalimas. “Kok ketoke senewen pol-polan awak peno? Isuk-isuk iki rek!”

“Iki lho te. Arek dikandani ojok sampek salah milih lha kok omongane wong tuwo gak digathekno. Saiki getun sak getun-getune.” Cak Kodir nduding-nduding anake sing ketok bingung karo ndeloki hapene.

“Lha milih opo se? Kok sampek peno mungkal-mungkal koyok banyu umup?”

“Wis tak kandani, le, nek apene tuku hape iku tukuo sing apik pisan. Ojok sing ketokane tok apik tapi njerone bosok. Lha kok mbrengkel. Jarene bapak iki gak ngerti teknologi lah, bapak iki gak ngerti barang apik lah. Pokoke salah kabeh omongane bapakne.”

“Lha terus sing rusak opone?” pak RT tambah penasaran.

“Iki durung sak taun digawe, wis bolak-balik mlebu serpisan. Sing jarene install ulang, sing jarene ganti memori. Memori opone sing diganti? Memori Januari ta?” Cak Kodir tambah abang raine. Pak RT mek mesam-mesem. Lha kok ujug-ujug nyambung nang lagu lawas se wong iki?

“Kok iso moro-moro rusak iki yo opo critane?”

“Wis mbuh te. Takonono areke dewe iki lho. Le, critanono le. Males bapak nyritani maneh.”

Anake Cak Kodir karo ingsut-ingsut nyidheki pak RT trus crito, “Ngeten lho pak RT. Awale kan kulo niki ditawani kaliyan konco wonten hape apik regane murah. Kulo nggih sampun negesi, onok ta hape apik regane murah? Terose konco kulo niki wonten. Lha teko bentuk’e mirip kaliyan hape larang sing nok WTC karo Plasa Marina niku lho pak RT.”

“Lha koncomu towo piro nang awakmu?”

“Sak juta pak RT. Terose niku jeronan hapene sami kaliyan hape Korea sing didamel artis-artis niku. Mangkane kulo tumbas mawon. Lha kok taksih dereng setaun pun bolak-balik servisan.”

Pak RT penasaran. “Se, ndeloki hapemu.”

Anake Cak Kodir ngekno hapene nang Pak RT. Dibolak-balik, diusep-usep, diterawang koyok nyawang dhuwit, ketokane pancen apik. Bodine mulus cling. Koyok hape Korea sing anyar rego 6 juta punjul iku. Pak RT malih curiga. Wong modele koyok hape 6 juta regane kok mek sak juta? Gak salah ta?

“Tak bukake yo le?” anake Cak Kodir manthuk ae. Barang dibukak batrene, casing’e, sampek dibongkar njerone, pak RT manggut-manggut trus mesem dewe. Anake Cak Kodir penasaran. “Onok opo pak RT? Kok sampeyan mesam-mesem dewe?”

Pak RT setengah ngguyu nduduhno tulisan cuiliiiik banget nang cedhak nggone batre. “Wocoen.”

KW1

Anake Cak Kodir langsung lemes. “Lhoalah pak. Tibake duduk hape asli. Dibujuki aku pak karo Bondet.”

Cak Kodir marani anake, “Mangkane ta le. Ojok ndelok prejengane tok ae. Ketoke apik tapi nek trus nyusahno awakmu iki trus yo opo? Saiki kudu ati-ati. Akeh barang elek prejengane apik. Sawangane koyok yok-yok’o. Tibake asu ajak. Yo wis saiki bapak maklum. Sesuk-sesuk awas mbok baleni maneh! Mbrengkel maneh tak slepet ndasmu.”